Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apologetika subyektif dilakukan atas dasar alasan subyektif

 


APOLOGETIKA SUBYEKTIF DAN OBYEKTIF 



Apologetika subyektif dilakukan atas dasar alasan subyektif. Artinya, setiap pembela kebenaran dan kemurnian iman haruslah terlebih dahulu mengalami pertemuan pribadi dengan Allah agar mata rohani mereka terbuka sehingga menyadari, memahami dan mengalami keberadaan dan kehadiran Allah. Mereka pun harus sungguh memahami dan tunduk pada otoritas Allah disertai dengan perubahan radikal kehidupan rohani mereka. Itulah ciri kehidupan para rasul dalam kesaksian Alkitab dan para martir dalam sejarah gereja. Tokoh-tokoh apologetik subyektif antara lain ialah Martin Luther tokoh Reformasi, teolog besar Karl Barth, dan ilmuwan besar Blaise Pascal dan sebagainya.

Apologetika obyektif dilakukan berlandaskan pemahaman obyektif dan sistematis tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi, yang melaluinya Allah telah menyatakan diri. Peristiwa-peristiwa itu diamati, di telaah dan dipahami secara obyektif dan ilmiah. Selanjutnya hasil studi tersebut digunakan untuk mempertahankan kebenaran dan kemurnian iman, bahkan sekaligus untuk mengalahkan serangan-serangan lawan.

Apologetika subyektif dan obyektif merupakan suatu kesatuan; keduanya saling melengkapi. Hanya orang-orang yang hidupnya telah diperbaharui oleh Roh Kudus yang mau dan mampu membela iman, sebab mereka telah menyadari, memahami dan mengalami sendiri kebenaran itu. Kesemuanya itu membuat mereka terdorong untuk rela berkorban bahkan bila perlu mati demi membela kebenaran iman Kristen, sebab mereka sadar, bahwa apa yang mereka pertahankan bukanlah dongeng atau khayalan atau sesuatu yang sugestif melainkan kepercayaan kepada Allah yang benar dan hidup, yang telah menyatakan diriNya paling jelas di dalam dan melalui tiap aspek karya keselamatan Tuhan Yesus Kristus. Kenyataan itulah yang memampukan orang Kristen mempertanggungjawabkan imannya secara sistematis, kritis dan ilmiah.

IMAN DALAM APOLOGETIKA






Apologetika Kristen bukanlah pembelaan ilmiah akademik yang dingin dan mati. Kemampuan intelek semata bukanlah alat yang handal untuk membela kebenaran. Tujuan akhir apologetika Kristen adalah supaya semua makhluk dapat mengenal Allah, memahami kebenaran firmanNya dan menyerahkan hidup mereka kepadaNya. Dengan demikian tugas apologetika haruslah menyampaikan Injil yang membawa manusia ke dalam kehidupan bersama Allah.

Dari uraian di atas, dapatlah disimpulkan bahwa usaha berapologetik adalah tugas yang menuntut para pelakunya mempertaruhkan seluruh hidupnya di tangan Tuhan, suatu tugas kehidupan yang berjuang dalam iman. Apakah yang dimaksud dengan iman?

Menurut F. G. Healey, iman adalah "anugerah dan tanggung jawab." Sesungguhnya seseorang hanya dapat percaya bila imannya dibangun dan dibangkitkan oleh Roh Kudus dan pemberitaan firman Kristus (Rm 10:17). Baru mata rohaninya dicelikkan, sehingga ia menyadari serta menyesali dosanya dan datang kepada Tuhan Yesus Kristus. Kepintaran saja ternyata tidak dapat membawa manusia kepada pengenalan akan kebenaran, melainkan hanya iman sebagai respons kita akan anugerah Allah. Dan iman itu harus dapat dipertanggungjawabkan kapanpun diminta.

Menurut James I. Packer, iman adalah "pengakuan dan pengabdian." Seseorang yang menyatakan dirinya beriman harus mau, rela dan berani mengakui Kristus sebagai Raja dalam hidupnya. Tetapi iman tidak hanya berhenti sebatas pengakuan. Iman itu disempurnakan di dalam pengabdian. Orang beriman adalah orang yang mengabdikan kehidupan dan pelayanannya kepada Allah dan manusia.

Menurut Hudson Taylor, iman adalah "berpegang teguh pada kesetiaan Allah." Orang beriman, sekalipun mengalami berbagai masalah dan tekanan yang amat berat dalam hidupnya, namun pengharapannya tidak goncang. Rahasia kekuatannya ialah selalu berpegang pada kesetiaan Tuhan, pada semua firmanNya, pada setiap janjiNya.

Alkitab mengajarkan, hanya mereka yang berimanlah yang dipakai Allah untuk mewujudkan rancangan damai sejahteraNya bagi dunia ini. Tokoh-tokoh iman seperti Abraham, Nuh, Petrus dan Paulus, sekalipun harus membayar harga yang amat mahal, mereka memiliki keberanian untuk mempertahankan kebenaran di tengah lingkungan yang rusak.

Secara agak khusus, kita perlu melihat teladan Yosua, pemimpin Israel yang menggantikan nabi Musa. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya tampak sekali ketaatannya kepada otoritas Allah. Sikap itu ia pertahankan sejak awal kepemimpinannya sampai akhir hidupnya. Ketegaran imannya telah mendorong dia untuk mengajar bangsa Israel agar mereka selalu hidup berlandaskan firman Tuhan. Ia bahkan menantang mereka untuk memilih kepada siapakah mereka akan beribadah, kepada Allah Israel yang hidup dan telah menyatakan diriNya kepada nenek moyang mereka atau kepada allah bangsa Amori. Tetapi Yosua serta seisi rumahnya memilih untuk beribadah kepada Tuhan (Yos 24:15). Karena teladannya itu orang Israel tetap hidup beribadah kepada Tuhan sepanjang pemerintahannya. Sikap hidup Yosua dilandasi iman yang teguh kepada Tuhan, iman yang membuka mata rohaninya, yang membuatnya sadar bahwa Allah itu ada, nyata, hadir dan berkuasa. Kenyataan itulah yang membuatnya dapat menjelaskan keberadaan dan kuasa Allah secara sistematis dan rasional. Yosua telah melakukan apologetika dalam arti yang sebenar-benarnya dan sedalam-dalamnya.

BEBERAPA AJARAN BERBAHAYA YANG MENYERANG IMAN KRISTEN 

sembunyikan teks 

Selain ajaran iman Kristen, mungkin tidak ada ajaran lain yang begitu gencar diserang sepanjang masa. Serangan-serangan tersebut seringkali begitu kejam dan penuh penghinaan terhadap Kristus dan otoritas Alkitab. Banyak orang Kristen telah terguncang hebat dan panik tatkala menghadapinya.

Untuk dapat bertahan kita harus memahami inti dari setiap ajaran yang menyerang kemurnian iman kita, karena akar dari ajaran seperti itu pada dasarnya adalah kesalahpahaman dan pemutarbalikan firman Tuhan. Jelas, tulisan singkat ini tidak mungkin menguraikan seluruh ajaran tersebut mengingat begitu banyak dan bervariasinya mereka itu. Untuk itu dibutuhkan sebuah bidang studi khusus. Tetapi kita perlu mengetahui beberapa ajaran yang sangat berbahaya, sekalipun secara garis besarnya saja.

Ajaran-ajaran tersebut antara lain relativisme, pluralisme, sinkretisme dan beberapa ajaran teologia yang berkembang di Asia pada dewasa ini. Sebenarnya akar dari seluruh ajaran tersebut adalah penolakan terhadap keunikan Kristus dan otoritas Alkitab.

Pedoman Praktis 

Berikut ini adalah beberapa pedoman praktis dalam berapologetika.

1.     Temukan presuposisi seseorang. Presuposisi inilah yang mendasari argumen, cara menafsirkan

 data dan pernyataan seseorang. Kita perlu berlatih untuk menganalisa tingkatan logika yang dipakai:

 pernyataan -> argumen -> data/bukti -> silogisme -> presuposisi.

2.        Analisa validitas presuposisi tersebut. Analisa ini menyangkut pemakaian common ground dan pendekatan yang tepat.

3.        Paparkan bukti-bukti positif.

4.      Lakukan semua langkah di atas dengan lemah-lembut, sopan, dan hati yang tulus untuk membawa

 orang tersebut pada kebenaran.

5.     Berdoalah kepada Tuhan, karena Tuhanlah yang menjadi penentu apakah seseorang akan

 menerima kebenaran atau menolaknya.

`



Posting Komentar untuk "Apologetika subyektif dilakukan atas dasar alasan subyektif"