Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tema yang diberikan pada saya sebetulnya berbicara soal praktis

 


Bunga Rumput

1 Petrus 1:22-25

            Tema yang diberikan pada saya sebetulnya berbicara soal praktis.     

Sebelum masuk ke poin penting ini, saya me-review sedikit mengenai “kekudusan” sebagai landasan dari kasih persaudaraan sekilas yang sudah dibahas banyak dalam sesi sebelumnya.

 





Illustrasi/Kesaksian:

 

  1. Landasan dari saling mengasihi/kasih persaudaraan adalah kekudusan.

 

Kekudusan, kudus, hagios, lawan dari koinos, artinya sacred, separated, tidak relatif, unordinary (berbeda dari yang biasanya). Bukan kekudusan umum seperti yang diyakini oleh agama lain yang disebut koinos. Kebenaran yang relatif, dalam konteks diaspora.

 

Kekudusan didasari dengan darah Kristus, karya penebusan, ditebus oleh darah Kristus yang mahal. Sehingga kita dilahirkan kembali.

Illustrasi:  Oliver Cromwell di Inggris. Seorang prajurit yang masih muda terkenal hukuman mati. Akan dihukum sesudah lonceng besar dibunyikan.

Girl Friendnya lebih dulu memeluk bulatan lonceng itu menghancurkan dia. Dan tidak kedengaran lonceng, rupanya ada yang bergantung pada lonceng itu dan mati, kemudian ia dibebaskan.

 

Illustrasi: Yesus mati karena menyelamatkan kita.

Gereja di Germany dengan lambang domba pada menara. Seorang pekerja jatuh dari atas dan kebetulan ada seekor domba yang lewat ia jatuh diatasnya, domba itu tewas seketika, jadi untuk mengingat domba itu.

 

Bagaimana kita dapat mempertahankannya:

Therefore, prepare your minds for action; be self-controlled; set your hope fully on the grace to be given to you when Jesus Christ is revealed.

As obeidient children, do not conform to the evil desires you had when you lived in ignorance. But just as he who called you is holy, so be holy in all you do. For it is written: Be holy, because I am holy.

 

    • Ayat 13, Memfokuskan hidup pada anugerah (Set your hope fully  on grace). Dan Self –controlled. Letakkan pengharapanmu secara fully (Teleios), complete.
    • Ibrani 12:2 “melakukannya dengan mata yang tertuju”

      “Fix your eyes on Jesus”

·         Ayat 14, Ketaatan seperti budak pada tuan (epi).

Kristus tidak dapat berdosa dan selalu taat karena ia mempunyai kehendak yang sama dengan bapanya, secara essensi Yesus dan Bapa adalah subject to subject.

Sedangkan manusia dari object ke subject.

·         Bicara soal ketaatan bicara soal “fokus” supaya tidak “miss the mark” (Hamartia).

 

 

  1. Mengamalkan kasih persaudaraan (Praktika).

Now that you have purified yourself by obeying the truth so that you have sincere love for your brothers, love one another deeply, from your heart. For you have been born again …

 

Kasih persaudaraan secara sincere love dan deeply from your heart  dan bukan kasih persaudaraan bunga rumput, yang mudah kering dan layu, tapi kasih persaudaran dengan landasan Kekudusan.

 

Ini berbicara tentang kasih persaudaraan yang bukan umum atau ordinary atau yang relatif , bukan kasih persaudaraan perak dan emas, bukan soal materi, like or dislike, bukan kondisional, bukan campuran/ada udang dibalik batu, tetapi kasih persaudaraan yang precious atau yang mahal. Kasih persaudaraan dengan standard Kristus, yang berfokuskan Kristus.

 

Kasih persaudaraan ini adalah kasih persaudaraan yang mengalami suatu proses, berkembang, dan bertumbuh dari philea” ke agapao/agape , dari you have sincere love for your brothers and love for one another deeply from your heart. Jadi pertama-tama mengasihi saudara seiman lebih dahulu, kemudian baru bisa mengasihi satu sama lain dalam jangkauan yang lebih luas dan lebih dalam.

Kita harus dapat mengasihi sesama seiman secara sincere, bukan dengan pura-pura dan mengasihi orang lain yakni orang berdosa secara deeply.

·         Ini berbicara soal motifasi yang bukan “social exchange”, bukan karena like or dislike, bukan karena dia adikku, besanku, omku, tetapi karena darah Kristus. Itulah sebabnya waktu Yesus diteriakkan, “Tuhan, ibu dan saudara-saudaramu mencari engkau”, lalu Yesus menjawab “Siapakah saudaraku laki-laki, siapakah saudaraku perempuan, siapakah ibuku, yakni dialah yang melakukan kehendak BapaKu di sorga”. 

 

·         Jadi ukuran kasih persaudaraan Yesus bukan bunga rumput atau emas dan perak, tetapi kekudusan.

Politikus: kalau kamu memilih saya.

Businessman: Kalau kamu mendatangkan uang banyak untukku.

Ekonomist: Kalau kamu hemat-hemat.

            Pejabat: kalau kamu mendukung saya

            Diktator: kalau kamu engge-engge saja.

            Dst.

 

Ini semua telah terjadi dari kasih persaudaraan dalam hubungan dengan dosa. Itulah sebabnya kita tidak dapat menjadi teman sekerja yang jujur, kita sering takut disaingi, dan saling menghalangi. Ini merupakan suatu kondisi yang sangat menyedihkan dan tidak boleh terjadi dalam hidup anda sebagai calon-calon hamba, karena kamu telah dilahirkan kembali.

 

·         Penghalang yang kedua dalam kasih persaudaraan adalah budaya. Budaya di dunia ketiga ini adalah budaya feodalistik dan perasaan. Yang muda harus menghormati yang tua apapun kondisinya. Akibatnya kita tidak dapat menasehati, memberikan saran, teguran, dan ungkapan hati atau kritik. Ini budaya yang selalu merusak kasih persaudaraan.

 

Posting Komentar untuk "Tema yang diberikan pada saya sebetulnya berbicara soal praktis"